
Kakinya bengkok dan hidupnya sepi. Tapi setiap pagi, Nenek Halimah tetap menjajakan kue dengan sisa tenaganya. Ia tak punya pilihan, karena tak ada siapa-siapa yang bisa membantu.
Di usianya yang telah menginjak 65 tahun, Nenek Halimah masih harus berkeliling menjajakan kue buatan tangannya sendiri. Setiap pagi Nenek Halimah memulai harinya dengan membawa nampan berisi kue basah, berkeliling menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah, menyusuri gang demi gang. Di usia 65 tahun, ia melangkah perlahan dengan kaki yang sudah bengkok dan bertopang pada tongkat seadanya, tapi bukan karena kecelakaan melainkan terlalu sering dipaksa berjalan demi mencari nafkah. Ia hidup sebatang kara, mengandalkan penghasilan kecil dari berjualan kue untuk sekadar bisa makan hari ini.

Kaki Nenek Halimah bengkok sudah lebih dari tiga tahun. Ia belum pernah memeriksakan diri ke dokter, bukan karena tak ingin sembuh, tapi karena tak punya biaya. Untuk menopang tubuhnya, ia hanya menggunakan besi seadanya, karena tak mampu membeli tongkat ketiak. Terkadang, ia bahkan kesulitan berdiri, dan tak jarang harus menerima kenyataan pahit: jatuh saat berjalan sendiri.

Dalam kondisi fisik yang sangat terbatas, ia tetap bertahan menjual kue. Bukan karena hobi, tapi karena perut harus tetap diisi. Tak ada suami, tak ada anak, tak ada bantuan tetap. Yang ada hanyalah semangat hidup yang terus ia genggam meski tubuhnya terus melemah hari demi hari. Sering kali hasil jualannya hanya cukup untuk membeli beras dan air minum. Namun bagi Nenek Halimah, itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.
Seakan belum cukup berat, dua bulan yang lalu dapur rumahnya roboh. Atap rumah pun kini banyak yang bocor, dan dindingnya mulai miring, nyaris roboh. Saat hujan datang, Nenek Halimah hanya bisa pasrah dengan lantai yang becek dan angin yang menerobos masuk dari celah tembok. 
Meski hidup dalam keterbatasan, Nenek Halimah jarang mengeluh. Ia tetap berjuang, tetap berjualan dengan senyum, meski tubuhnya terus memberi tanda untuk menyerah. Hidup tak memberinya pilihan, kecuali terus berjalan, meski tertatih-tatih dalam sepi.
Tapi di balik keteguhan hatinya, ia tetap manusia biasa yang butuh bantuan. Saat tubuhnya semakin melemah dan penghasilannya tak tentu, Nenek Halimah hanya berharap ada tangan yang mau menyentuh hidupnya, memberi sedikit harapan untuk hari esok.

Sobat, mari hadir untuk Nenek Halimah. Mari jadi tumpuan di saat ia tak bisa lagi berdiri tegak. Uluran tangan kita bisa menjadi pengganti tongkat, atap, dan dapur yang roboh. Jangan biarkan ia terus berjuang sendiri dalam sunyi yang menyakitkan.
![]()
Menanti doa-doa orang baik