
Dengan tangan dan wajah keriput, ia tetap menjajakan rumput laut. Bukan hanya demi dirinya, tapi untuk cucu yang kini jadi satu-satunya alasan bertahan.
Di usianya yang telah menginjak 85 tahun, Nenek Osi masih harus bekerja setiap hari demi menghidupi cucunya. Tubuhnya sudah rapuh, langkahnya pun tak lagi kuat, tapi ia tetap memaksakan diri mengikat dan menjual rumput laut dari pagi hingga sore. Upahnya hanya lima ribu rupiah—jumlah yang bahkan tak cukup untuk membeli sebungkus nasi. Namun dengan uang itulah ia berusaha menyambung hidup, sekaligus memenuhi kebutuhan cucu yang kini ia rawat seorang.

Setiap lembar rumput laut yang ia ikat, adalah bukti cinta seorang nenek pada cucunya
Setiap pukul delapan pagi, Nenek Osi sudah duduk di tempat kerja, tangan gemetar mencoba mengikat satu per satu rumput laut. Ia bekerja hingga jam tiga sore, meski tubuhnya sering kali dilanda sakit dan lemas. Tapi apa daya, jika ia tidak bekerja, maka tak ada yang bisa dimakan. Tak ada pilihan lain, hanya ada ketabahan yang ia peluk erat setiap harinya.

Yang lebih menyayat hati, Nenek Osi tidak hidup sendiri. Ia tinggal bersama dua orang cucunya, seorang perempuan dan seorang laki-laki, yang telah menjadi yatim piatu. Tak ada lagi orang tua yang menafkahi mereka. Dalam usia senjanya, nenek ini justru memikul beban berat sebagai satu-satunya harapan hidup bagi kedua cucunya.
Pernah suatu hari, Nenek Osi tak mendapatkan nafkah sepeser pun. Tidak ada pekerjaan, tidak ada makanan. Hari itu ia hanya bisa menahan lapar, berpuasa seharian meski bukan karena niat ibadah, melainkan karena tidak ada yang bisa dimakan. Ia hanya menunduk dalam diam, berharap esok akan ada rezeki yang datang.

Dalam kehidupan yang begitu keras, Nenek Osi tetap berdiri—meski tubuhnya rapuh, meski kesedihan sering datang diam-diam. Ia bukan hanya seorang nenek, ia adalah benteng terakhir bagi cucu-cucunya. Dan seperti banyak orang tua yang terpaksa kuat, ia tak pernah meminta, hanya berharap ada yang peduli.

Sobat, mari jadi cahaya bagi Nenek Osi dan cucu-cucunya. Mari ringankan beban yang tak seharusnya ia pikul sendiri di usia setua ini. Bantuanmu bisa menjadi pembeda antara lapar dan kenyang, antara putus asa dan harapan. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian.
#Terimakasihorangbaik
![]()
Menanti doa-doa orang baik